Provinsi NTT Cetak Rekor Baru MURI


13 Desember 2013

Soe (Plan Indonesia Comms) Sebanyak 362 desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa, 26 November 2013, mendeklarasikan diri sebagai desa yang telah menerapkan program Sanitasi Berbasis Masyarakat (STBM).

Melalui program tersebut, sekitar 600 ribu jiwa di dua kabupaten itu telah merasakan pentingnya manfaat sanitasi. Atas prestasi itu, Museum Rekor Indonesia (MURI) mengukuhkannya sebagai desa terbanyak yang melek sanitasi. "Ini merupakan yang pertama dan terbanyak sepanjang sejarah Indonesia," kata Senior Manager MURI Paulus Pangka saat acara deklarasi di Desa Tetaf, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Wakil Menteri Kesehatan Ali Gufron Mukti hadir dalam acara tersebut. Demikian pula Wakil Gubernur NTT Beny Litelnoni, Bupati Timor Tengah Selatan Paul Mella, dan Bupati Timor Tengah Utara Raymundus Fernandez. Acara deklarasi ditutup dengan peragaan cuci tangan massal oleh 200 anak.

Manejer Program Air Bersih dan Sanitasi Plan Indonesia Eka Setiawan mengatakan, program STBM di dua kabupaten itu mulai dilakukan sejak 2010 lalu. Sebagian besar pendanaannya berasal dari bantuan Kedutaan Besar Belanda.

Melalui program STBM, desa-desa tersebut telah menerapkan lima pilar sanitasi, yakni menghentikan kebiasaan buang air di sembarang tempat, budaya cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah, dan pengelola limbah rumah tangga. Pelaksanaan program mendapat pendampingan lima lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam negeri, di antaranya Plan Indonesia, serta satu LSM dari Belanda.

Country Director Plan Indonesia Myrna Remata Evora mengatakan, dengan dideklarasikan desa STBM, kualitas kesehatan masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Timor Tengah Utara Selatan menjadi lebih baik. Dia berharap penerapan hidup sehat dengan lingkungan yang sehat bisa membantu pencapaian target Milenium Development Goals (MDGs).

Myrna menambahkan, kontribusi masyarakat Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara juga harus diapresiasi.

"Bayangkan jika dirupiahkan, kontribusi mereka lebih dari Rp3 miliar untuk membangun sekitar 5.000 jamban tanpa subsidi," katanya.

Menurut Myrna, melalui program STBM, juga diharapkan bisa menjadikan warga di dua kabupaten itu bebas dari kejadilan luar biasa (KLB) penyakit diare. Sebab, setiap tahun, dua kabupaten itu selalu terjadi KLB penyakit diare, Namun sejak 2012, tidak lagi terjadi KLB diare.

Sebagai informasi, program STBM di TTU dan TTS sendiri adalah bagian dari program SHAW (Sanitation Hygiene and Water). Program ini dilakukan oleh 5 LSM Indonesi dan 1 LSM Belanda, sehingga didanai sebagaian oleh Kedutaan Besar Belanda. Ferdian (Plan Indonesia)



Penulis :
Organisasi/Jabatan :
Media Sosial :
Website :